Vichy Bath
Spa sudah jadi ritual ulang tahun saya. Hadiah yang saya berikan pada diri saya sendiri. Sayangnya, spa langganan saya sudah beberapa lama tutup. Terpaksa saya pindah ke spa lain yang lebih wah, dan memang sedikit lebih mahal, Taman Sari Royal Heritage Spa.
Saya pilih paket Refreshing karena tertarik pada vichy bath yang ditawarkan dalam paket ini. Awalnya saya bingung juga, apaan sih vichy bath itu? Rendam-rendam? Bukan. Katanya kayak pijatan dengan semprotan air. Yang ada di bayangan saya semprotan air berkekuatan besar seperti yang dimiliki pemadam kebakaran. Kayaknya menyakitkan dan tidak terlalu membuat rileks ya… tapi saat si mbak menunjukkan foto seorang cowok tengkurap dengan ekspresi bahagia, tiba-tiba terlintas dalam benak saya, “Oh, kayak hujan-hujanan ya?” “Ya!” kata si mbak dengan gembira. Entah kenapa (mungkin karena terlalu sering dilarang waktu kecil dulu), hujan-hujanan adalah salah satu obsesi saya, (mungkin juga karena kalau kebetulan kehujanan di hujan yang superlebat hingga basah kuyup, saya justru merasa hangat, senang, dan rileks) jadi begitu diiyakan bahwa vichy bath itu seperti main hujan-hujanan, saya setuju mengambil paketnya.
Pijatan dan luluran yang saya lewati standar saja. Enak dan saya sempat tertidur, tapi bukan sesuatu yang baru lagi. Berikutnya, saya dibangunkan dan diminta membilas tubuh dulu sebelum dibawa ke ruang vichy bath (tadinya saya sempat mengira vichy bath ini akan diadakan dalam kamar tempat saya dipijat). Begitu masuk ruang vichy bath ini, mau tak mau pikiran saya sempat lari ke kamar gas di kamp konsentrasi Nazi di Austria sana. Ruangan itu berdinding abu-abu, dengan satu meja berlapis kasur di tengahnya, di atas meja itu terdapat palang dengan ledeng-ledeng. Berusaha membuang pikiran jelek itu, saya tengkurap di meja. Si mbak pemijat saya berganti pakaian juga dan mengenakan jas hujan. Lalu siraman itu dimulai. Awalnya dari telapak kaki dan dengan air dingin, meskipun bukan dingin yang dingiiiiiiiin. Perlahan kucuran air merambat naik ke betis, paha, punggung, dan pundak. Airnya pun semakin hangat hingga panas di suhu yang nyaman. Sensasi tenggelam dalam hujan yang deras dan hangat pun datang. Kamp konsentrasi menghilang digantikan gambaran akan gunung dan padang yang indah di Salzburg, tempat si suster nakal Maria ber-yodell, “The hills are aliiiiiiiiveee…” (Mestinya perawatan di spa ini membawa saya ke alam keraton Jawa ya, bukan ke perbukitan Austria… tapi yah…) Saya benar-benar merasa rileks dan bahagia. Inilah saat-saat uang bisa membeli sepotong surga dunia… hahaha… Tapi saat saya sedang tenggelam dalam pikiran, “aaah… heaven!” si mbak bertanya, “Mau bagian depan juga, Bu?” Bah! Ya sudahlah, ilusinya sudah buyar, sekalian bagian depan saya minta disiram. Sialnya, pada siraman di bagian ini, rupanya air sudah terlalu panas (atau mungkin sensitivitas kulit punggung dan perut berbeda) sehingga saya jadi tidak terlalu menikmatinya lagi.
Begitulah vichy bath saya selesai (saya curiga sebetulnya belum penuh 30 menit! Hehehe), dan saya harus membayar lumayan mahal untuk sepotong kenikmatan itu. Tapi… kalau tidak ketemu spa yang lebih unik, mungkin ulang tahun mendatang saya kembali ke spa dan menu yang memuat vichy bath ini.







