Pasta de Waraku

Setelah lebih dari setengah tahun nggak nge-blog, akhirnya ada juga tema yang membuat gue bener-bener nyempet-nyempetin buat nulis… hehehe…

Actually awalnya gue gak terlalu tertarik sama restoran ini. Pasta tapi ala Jepang? Hmm… buat gue pasta itu mesti ala Italia (deui sombongnyeee… hahaha…) Tapi Sabtu siang kemarin suami gue tertarik buat mencoba, daripada makan Kenny Rogers, katanya, yang ayam lagi, ayam lagi. So, berhentilah kami bertiga di depan resto ini, dan mbak-mbaknya dengan cerdas menangkap perhatian si Mika dengan bola yoyo. Alhasil, sudah dengan yoyo di tangan, gak enak dong kalo gak masuk…

Begitu duduk, first impression gue akan resto ini udah lumayan. Dengan banyak sample makanan ditata di lemari pajang dan buku menu segede gaban yang full foto, mau gak mau air liur kita terbit juga. Penataan duduk lumayan cozy meski berkesan agak sempit. Tata cahaya terang benderang, dan AC full dingin. Brrr!

Setelah mbolak-balik buku menu yang kayaknya isinya semua enak dan membuat bingung itu, gue memilih spicy mentai mushroom-cod roe (termasuk jenis soup-pasta), dan suami gue pizza salmon and mushroom, serta sup jagung. Mika kami pesankan set carbonara yang terdiri atas sepiring spageti carbonara, kentang goreng dan ayam goreng, dan puding. Lalu minumnya ocha saja.

Lalu gue membawa Mika jalan-jalan sepanjang restaurant row biar gak mengacau di dalam, dan balik tepat saat makanan dihidangkan. Bentuk awal soup-pasta gue agak mengecewakan, karena piringnya kayak topi dibalik… guedeee buanget!… tapi dengan isi cuma di cekungan topinya, jadi rim topinya kosong. Gue pikir, yah, segini doang mana kenyang? Tapi saat diseruput, hmmm… rasanya membuat gue memaafkan ukuran (yang gue kira dikit) itu. Rasanya… gurih dan nikmat dan hangat, pas buat gue. Bentuknya cokelat dan agak kental, dengan potongan jamur serta telur ikan yang oranye serta irisan nori alias rumput laut tertabur di atas pastanya… tepatnya spageti rebusnya. Setelah gue aduk-aduk, tentu rasa benda-benda itu makin tercampur dan membuat kuahnya makin gurih.

Sementara gue berusaha mendeskripsikan rasa gurih yang tepat, Mika mulai menjarah makanan bapaknya. Pizza pesanan suami gue ternyata benar-benar tiker—tipis kering. Sekali lagi tampilan awal agak mengecewakan. Tapi setelah Mika menggigit sekali… wahaha… ekspresi Bondan Winarno pas bilang mak nyuss aja kalah! Pelan-pelan senyumnya terkembang, dan matanya berbinar-binar, lalu hidungnya mengerut senang campur geli. Anak umur satu tahun memang tidak bisa berbohong soal rasa. Meskipun tiker, tapi bagian tengahnya lembut dan mudah digigit si bayi. Campuran keju leleh dan saus wafu-nya (whatever that is) menciptakan rasa gurih yang memanjakan lidah. Jamurnya pun empuk. Mika suka banget jamurnya. Sayangnya begitu sampai bagian salmonnya, Mika justru tidak suka. Nggak papa sih, soalnya mamanya jadi girang dapat gigitan salmon… hahaha… Sementara itu tentu saja suami gue jadi nelangsa karena makannya dijarah-rayah sama anak-istri… hahaha… Terpaksa dia akhirnya makan set carbonara spaghetti yang kami pesan untuk Mika. Tapi untungnya menurut dia spagetinya enak.

Sup jagung yang dipesan suami gue juga enak, cuma gak terlalu spesial. Yang patut diceritakan lagi adalah ocha pesanan kami. Awalnya gue merasa gembira karena mendapati ocha asli Jepang yang puait, tapi masih bisa gue toleransi. Rasa pahitnya membuat gurihnya makanan kami ternetralisir, dan kami tidak mual. Tapi, saat gue membantu menghabiskan complimentary ice cream buat Mika, barulah gue menyadari betapa pahitnya ocha itu. Gluk! Paiiiit!!! Tapi, gluk-gluk-gluk, segar! Tapi, pait! Gila! Pait banget! Hahaha… Tapi, begitulah ocha Jepang sungguhan. Bahkan ocha yang gue temui di resto-resto sushi pun gak kayak gitu.

Soal harga, resto ini sebetulnya lumayan mahal. Dan mereka gak bohong. Mereka pasang tulisan, harga mulai Rp38.000 (which is kid menu). Tiap porsi rata-rata Rp50.000-70.000. Tapi karena kami puas dengan rasa hidangannya, dan masih ada begitu banyak variasi menu yang bisa dieksplorasi, gue dan suami gue akan kembaliiii….

(PS: tampilan porsi yang kecil itu ternyata menipu, setelahnya gue kenyang juga… Tapi, apakah itu karena gue juga makan segigit-dua gigit pizza, plus es krim ya? Hehehe…)

Pasta de Waraku ada di Restaurant Row PIM 2.



Leave a Reply