Waktu gue baru melahirkan bukan cuma seorang teman gue yang berkata, “Jangan putus asa memberi ASI ya!” Tentu ada alasan mengapa hampir semua teman gue yang sudah jadi ibu-ibu menekankan pentingnya ASI. Tentu saja semua alasan teoritis itu silakan baca di majalah-majalah atau cari di situs-situs tentang laktasi. Alasan gue mungkin sederhana saja: Mika ternyata tumbuh nyaris tanpa gangguan sampai 4,5 bulan ini, dan kalau dia menyusu gayanya lucu sekali. Tapi apa pun alasannya, gue ingin membagi pengalaman laktasi gue di sini.
- IMD.
Gagal total! Mika paling-paling hanya sekitar 3 menit di dada gue begitu dilahirkan. Begitu melihat puting gue masuk, suster langsung mengangkat dan membawa pergi Mika. Gue juga baru tahu setelahnya bahwa IMD seharusnya dilakukan sampai bayi menemukan puting ibu dan menyusu. Prosesnya bisa setengah sampai satu jam.
- Mengeluarkan ASI
Karena tanpa IMD, praktis ASI gue gak keluar di RS. Sudah pinjam pompa listrik, 30 menit cuma dapat 10 ml, jadilah gue bahan ketawaan para suster di sana. Begitu pulang, gue pompa terus payudara gue, dan perlahan-lahan produksi ASI naik, dari 30 ml, 50 ml, sampai akhirnya 120 ml.
- Bayi mencret
Ternyata semua bayi baru lahir itu mencret. Sialan, gue gak tau! Gue kira itu karena gue kurang bersih menyimpan ASI yang dipompa. Akibatnya gue buang semua ASI hasil pompa itu. Yah, bayi akan sering mencret sampai kira-kira umur 2 bulan karena sistem pencernaannya masih menyesuaikan diri.
- Tidak bisa pup
Saking mencret, Mika gue kasih susu formula yang lebih padat. Mencret berhenti, pup pun berhenti sama sekali sampai 5 hari. Jadi sebenarnya, biarkan saja mencret, soalnya sistem pencernaannya mengeluarkan zat-zat yang jelek. Bayi boleh kok pup sampai 5 kali dalam sehari.
- Menyimpan ASI
Gue mulai menyimpan ASI 1 minggu sebelum kerja. Sebetulnya menurut dokter anak gue, yang ideal 2 minggu sebelum mulai kerja. Gue menyimpan ASI dalam botol minum ukuran 60 ml (gue punya 18 botol kecil ini) dan 120 ml (ada sekitar 12 botol sedang ini) (kemudiannya gue juga punya 3 botol ukuran 250 ml), dengan tutup piringan. Karena ada beberapa botol yang “datang” tanpa piringan tutup ini, gue tutup dengan plastic wrap yang biasa buat tutup makanan itu. Karena freezer jadi satu dengan penyimpanan daging dll. gue masukkan botol-botol tsb dalam plastic clip (zip lock), lalu dimasukkan lagi dalam kotak tupperware. Gue berharap perlindungan ini cukup “double-protection” supaya ASI tetap bersih dan tidak terkontaminasi bakteri dari daging. Saat ruang tupperware habis, botol gue masukkan ke dobel plastic clip.
Saat mulai kerja gue punya ASI sekitar 2 liter, dan Mika minum kira-kira 500 ml tiap gue tinggal (sekitar 12 jam).
Gue tidak menganjurkan beli plastik khusus menyimpan ASI karena ternyata bentuknya persis sama dengan plastic clip, harganya mahal, dan hanya bisa digunakan sekali. Mending beli botol yang bisa dipakai berkali-kali. Coba deh cari botolnya di Carrefour, harga berkisar dari Rp10.000 sampai Rp20.000.
- Memeras ASI di kantor
Gue memeras ASI 3 x di kantor, jam 8.30, 12.30, dan 15.30. Yang jam 12.30 sering bergeser, tergantung jam gue makan siang. Sekali peras gue dapat 100 ml - 150 ml ASI. Gue menggunakan pompa listrik. Meskipun katanya lebih oke peras dengan tangan, gue merasa memeras dengan tangan itu bikin pegel dan menyakitkan juga, udah gitu dapatnya dikit lagi. Selain itu katanya kan pompa listrik paling mirip dengan isapan bayi. Sekali memeras gue menghabiskan waktu 15-30 menit. Begitu selesai memeras, ASI gue kasih label dengan post-it: hari, tanggal, jam, isi berapa ml, lalu gue simpan di freezer kantor (yg jauh lebih bersih dan kosong daripada yg di rumah… hihihi)
- Membawa pulang ASI
Gue membawa cool box dalam ransel, plus blue ice. Jadilah gue selalu kayak kemping kalo ke kantor. Gue berusaha mengemas ASI pada detik terakhir, supaya tetap dingin dan beku, karena meski dibantu blue ice (yg juga disimpan di freezer kantor), tetap saja perjalanan pulang gue cukup lama dan selalu ASI yang beku sudah cair sedikit tiap sampai rumah. Tapi gak papa, langsung saja masukkan lagi ke freezer di rumah.
- Pemberian ASI di rumah
Di rumah, Mika minum ASI yang kurang-lebih minggu lalu (pas banget, karena kan gue start menyimpan juga hanya seminggu sebelum ngantor). Tiap malam gue sisihkan ASI yang akan dia minum keesokannya, dan gue tulis di kertas yang ditempel di pintu kulkas, ASI mana yang harus dia minum (ada di kotak tupperware mana, karena kotak tupperware gue berbeda warna tutupnya). O ya, hasil perasan di kantor tidak semua gue bekukan. Hasil perasan terakhir (jam 15.30) gue simpan di pintu kulkas bawah, tetap cair untuk diminum langsung keesokan paginya. Pagi sebelum berangkat ngantor gue juga memeras ASI, jadi Mika dapat 2 botol susu baru, dan sisanya minum susu beku.
Susu beku dicairkan dengan diletakkan di luar (di suhu ruang), lalu dihangatkan dengan penghangat (ada alatnya), suhu penghangat disetel di 40 derajat Celsius. Hati-hati jangan terlalu hangat/panas, selain kasian kalau sampai bayi dikasih yang terlalu panas, tapi gizi dalam ASI juga hilang.
Mika minum ASI dalam botol, meskipun katanya mestinya dikasih dengan sendok supaya anaknya tidak bingung puting, tapi… ah, sudahlah.
- Makanan ibu menyusui
Saat Mika masih di bawah 2 bulan, gue salah makan/minum sedikit aja, anak itu mencret. Tapi masuk bulan ketiga, gue mulai bisa menikmati makanan dan minuman yang lebih berani dan eksploratif. Gue sudah bisa makan makanan bersantan, asam, atau pedas, dan Mika tetap oke-oke saja. Sampai sekarang dia tidak pernah mencret lagi.
Untuk memperbanyak air susu, gue makan makan rebusan daun katuk plus airnya, daun pepaya (bisa divariasi ditumis dengan ikan, dibuat gudeg, atau dilalap saja), dan minum jamu (basic-nya beras kencur, lalu diberi air daun pepaya atau sirih) dan kapsul Kattuk dari www.jamuborobudur.com. Supaya air susu kuning dan berminyak, gue makan banyak daging (nyam! I’m a true carnivore… hohoho…), dan hasilnya memang “mengerikan” secara air susu gue yang dicairkan lagi benar-benar bisa ngambang minyaknya.
- Perawatan ibu menyusui
Nope. Nada. Zero. Zilch. Sebetulnya sih, kalo mau manja bisa aja gue menggunakan alasan “capek menyusui” blablabla buat rajin ke spa misalnya. Tapi, *sigh* entah kenapa gue gak melakukannya. Anjuran buat mengompres payudara, massage, dll. juga tidak pernah gue ikuti. Sejauh ini semua oke.
- Menyusui langsung
Posisi yang paling enak menyusui adalah posisi yang benar, yaitu posisi tummy to mummy, chest to chest, dst itu. Tapi namanya kalo udah ketemu anaknya langsung, lupalah segala teori itu. Apalagi kalo anaknya kluget-kluget ke sana kemari seperti Mika. Jadi posisi menyusui duduk gue ya sudah, gue pangku si Mika, dan kadang-kadang kami bisa melakukan posisi yang benar itu, tapi lebih seringnya sih tidak. Lebih seringnya Mika menyusu dengan wajah menoleh ke arah gue, sementara badan telentang rata di pangkuan.
Menyusui sambil tidur butuh lebih banyak trik, tapi sekarang sukses gue lakukan sehingga gue bisa tidur nyenyak sepanjang malam (alias, tiap Mika minta nyusu, gue tinggal melek sebentar, membantu dia menemukan puting, lalu tidur lagi). Posisi ini butuh banyak bantal: 2 bantal menyangga kepala gue, 1 bantal untuk kepala plus setengah badan Mika, 1 guling kecil menyangga punggung Mika (supaya dia miring), dan 1 guling kecil menyangga punggung gue (supaya gue juga bisa mempertahankan posisi miring gue dan gak pegel). Seringnya sih guling yang di punggung Mika lalu terguling entah ke mana, lalu dia kembali menyusu dengan posisi favorit: kepala menoleh ke arah gue, badan telentang rata.
- Tantangan dan hambatan
Karena program ASI eksklusif 6 bulan ini tergolong baru (baru mulai sekitar tahun 2002), otomatis informasinya tidak sampai pada generasi sebelum kita. Jadi tantangan bagi gue dan suami gue adalah meyakinkan generasi tua bahwa bayi bisa selamat hanya dengan ASI, bahkan ASI-lah yang terbaik bagi bayi. Susah juga, soalnya zaman dulu kan bayi biasa sudah dikasih buah saat umur 1 bulan, bahkan di bawah 1 bulan. Tapi ya terbukti juga si Mika tidak apa-apa dan tumbuh besar untuk ukuran usianya hanya dengan ASI (umur 4,5 bulan beratnya 7,1 kg). Babysitter yang tidak terbiasa dengan program ASI eksklusif ini juga jadi tantangan tersendiri, kesalahan seperti kelamaan memanaskan ASI sampai mendidih pun pernah terjadi. Tapi all in all, masalahnya (bagi gue) adalah komunikasi dan bisa diakali dengan penyampaian informasi yang tepat.
Yah, begitulah pengalaman laktasi gue. Moga-moga gue sukses menjalani 1,5 bulan sisa dari program ASI eksklusif ini, dan moga-moga kalo emang cocok, manajemen ASI gue bisa jadi sontekan juga buat orang lain.