Just Steak

September 1st, 2008

Kenapa isi blog ini jadi makanan semua? hihihi… Ini cerita minggu lalu saat gue dan salah satu teman kantor yang ngiler gara-gara gue abis makan di Stone Grill jadi pengin makan steik. Sebenarnya resto steik favorit kami adalah Gandi’s, tapi saat kami datang ke cabangnya di Barito, cabang itu tutup! Dalam kepanikan, akhirnya kami berhenti di resto steik terdekat dari Barito: Just Steak, di belakang gereja Blok B.

Restonya modern minimalis dan agak norak dengan segala foto bintang film dipajang. Dooh, gue sih mending liat foto-foto steik yang menggiurkan daripada fotonya Marilyn Monroe dan Jessica Simpson.

Menu yang tersedia lumayan menggiurkan, tapi akhirnya kami berdua mengambil paket (@Rp115.000). Gue ambil paket B: french onion soup, australia rib eye + saus jamur (tapi gue minta diganti saus anggur merah), minum (jus atau soft drink), dan creme brulee. Buat harga sekian paket ini lumayan banget. Temen gue pesen paket B: salad, australian sirloin, minum, dan buah.

Yang tidak lumayan adalah pelayanannya. Bukan pelayan, orang-orangnya sih ramah-ramah, cuman lamanya itu looooh… Maksud gue, steik itu kan makanan yang penyediaannya cepat dan sederhana. Cuma panggang daging itu, bolak-balik, voila, jadi deh! Nyatanya, gak usah ngomong soal steiknya dulu deh, buat entree-nya yang mestinya udah siap aja gue sama temen gue perlu kehabisan bahan percakapan dulu baru si entree muncul.

Saat akhirnya si french onion soup muncul, wujudnya adalah kuah cokelat dengan baguette dan keju mozarella leleh. Taste-nya gurih dan nikmat. Rib eye-nya (yap, setelah menunggu sekian lama lagi) yang gue minta medium rare agak terlalu rare sih, tapi nikmat juga. Saus anggur merahnya agak terlalu manis. Creme brulee-nya datang setelah semua makanan utama selesai dan piringnya diangkat dari meja. Dan saking udah lamanya menunggu segala makanan itu tadi, dan porsi steik yang lumayan besar, terus terang kami berdua agak lupa ada dessert. Tapi creme brulee-nya enak kok. Manis, dan karamelnya crunchy, dan gak bikin enek.

So, buat taste makanan dan harga resto ini lumayan. Tapi buat waktu pelayanan payah deh.

The End

Bombay Blue

September 1st, 2008

Kemacetan Jakarta membuat gue dan suami gue melenceng ke Cikini. Kebetulan jam sudah menunjukkan waktu makan siang dan di pinggiran jalan tampaklah si Bombay Blue yang pernah gue baca review-nya entah di mana. Setelah pakai acara teriak-teriak dikit karena suami gue terus menjalankan mobil melewati resto ini, belok-belok dikit untuk balik arah, dan perpecahan keinginan karena ketemu Kikugawa juga, akhirnya kami jadi mendarat di Bombay Blue.

Tampilan resto India ini memang “biru”, bagian luarnya dicat biru, tapi interior bagian dalamnya dominan oranye-cokelat. Di pintu depan ada satu bapak India menyambut kami, tapi kami lalu diantar oleh mbak pelayan yang berseragam biru. Mbak-nya orang Indonesia kok, bukan India. Tapi tamu-tamu yang lain orang India, yang bahkan tidak berbahasa Indonesia. Acha-acha, rupanya kami datang ke tempat yang tepat. (Maksud gue, kalo masuk resto Jepang, tamunya banyak Jepang, maka taste-nya pasti Jepang banget. Begitu juga soal India ini.)

Buku menu serasa ditulis dalam bahasa planet. Biarpun sudah beberapa kali makan di resto India, dan lumayan menyukai taste-nya, gue tak bisa menghafalkan segala nama vindaloo atau tikka atau masala itu jenis makanan apa. Akibatnya, jalan pintas, kembali kami panggil si mbak yang baik hati.

Akhirnya kami memutuskan memesan: mutton rara masala, chicken tikka, garlic naan, butter naan, dan suami gue yang rupanya kelaparan minta nasi putih. Biryani, Pak? Bukan, nasi putih. To be honest, jarang-jarang gue menangkap basah suami gue jadi orang Indonesia gitu… hihihi…

Yang keluar duluan adalah “crush” yang bagi gue kayak mi instan tumbuk dicampur kerupuk remuk dan potongan kacang mede dan kacang kedelai. Complimentary dari restoran, kata si mbak pelayan yang ramah. Makanan pembuka icip-icip ini rasanya asin-gurih, enak juga.

Lalu datanglah segala macam pesanan kami itu. Si mutton rara masala terdiri atas daging kambing yang dicincang dicampur rempah-rempah kari, sehingga menjadi kari kental dengan potongan daging. Chicken tikka-nya adalah ayam panggang bumbu merah. Naan-nya lumayan besar, tapi taste garlic-nya kurang. Yang enak tentu saja si mutton dan si chicken. Ayam panggangnya gurih sekali dan bumbunya terasa. Kari kambingnya pun nikmat tiada akhir dan potongan dagingnya empuk. Benar-benar panas dan nikmat dimakan dengan naan. Kari kental ini dengan cepat berpindah ke dalam perut, tak lupa piring juga diusap sampai bersih dari kari dengan naan.

Selain itu disertakan juga set bumbu India. Karena selalu penasaran, gue kembali memanggil si mbak yang murah senyum dan penjelasan itu untuk menjelaskan ini bumbu apaan sih? Bumbu India standar yang berwarna hijau itu katanya namanya charney (moga-moga gak salah), terdiri atas daun mint campur yogurt dan rempah-rempah India lainnya. Sementara salah satu bumbu yang manis kental ternyata katanya sweet mango pickles. Wah, emang yang terakhir ini enak betul.

Sayang, kami sebetulnya sedang tidak terlalu into culinary adventure, tapi lebih ke mengisi perut lapar saja. Jadi kami tidak memesan menu yang terlalu aneh, kami bahkan tidak memesan minuman yang aneh-aneh. Masing-masing cuma pesan es teh dan lemon tea hangat.

Ujungnya, saat ternyata mesin penggesek kartu kredit mereka rusak, mereka tetap memberi diskon yang dikenakan pada kartu kredit kami, meskipun kami akhirnya membayar dengan cash. So, tentu saja kami masuk mobil dengan wajah berseri-seri.

(Pssst, gue juga memberi tip pada si mbak pelayan yang selalu gembira itu.)

Bombay Blue: Chinese, Indian, and Chindian food. Cikini Raya 40, 021-3149127

The End

Stone Grill

August 19th, 2008

Weee udah lama gak bikin review makanan nih… hehehe… Ceritanya hari Senin, 18 Agustus 2008 lalu gue ditraktir teman gue makan di Stone Grill. Gue kan karnivora sejati, jadi undangan makan di restoran steik (yang udah lama pengin dicoba, pula) bak pucuk cinta diulam tiba dah.

Masalahnya, tiap kali lewat resto ini, kok selalu sepi ya? Saat gue didrop suami gue di depan resto ini pun halaman parkirnya sunyi sepi, bagian dalam resto tidak kelihatan terang atau ada kesibukannya. Yang ada cuma seorang mas-mas dengan seragam Stone Grill duduk mencangkung di depan pintu. Untungnya begitu melihat gue turun dari mobil, si mas itu langsung bangkit menghampiri. “Ibu yang sudah reserved ya? Sudah ada temannya yang datang, silakan naik ke lantai 2.” Oooo…

Begitu lift membuka di lantai 2, gue dihadapkan pada interior restoran yang minimalis dan cenderung gelap. Teman-teman gue sudah duduk manis di meja pojok. Dan kami langsung memutuskan mulai order appetizer.

Pilihan pertama adalah jamur portobello dipanggang on the stone (spesialnya resto ini memang panggang-panggangan di atas batu yg panasnya 400 derajat Celsius, jadi gue sih gak rekomen makan di sini dengan bawa anak kecil yg pengin pegang semuanya) dan samosa. Sayang samosa-nya gak ada, jadi kami ganti dengan pilihan berani: escargot.

Portobello-nya datang 3 jamur besar on the stone. Jamur-jamur itu “telungkup”, lalu kami diajar untuk “menelentangkan” si jamur sampai keluar sarinya, lalu “ditelungkupkan” lagi dan dipotong-potong. Dimakan dengan saus parutan tomat dan sayur-mayur (yg akhirnya gak kemakan).

Escargot-nya datang dalam wadah yang unik berupa piring dengan 6 lubang, dan masing-masing lubang diisi seekor escargot berlimpah bumbu. Di pinggiran piring ditata irisan baguette. Bumbunya sih gurih dan nikmat, dan enak dicocol baguette. Si escargot sendiri bentuknya kayak kerang, cuma sekali hap langsung habis. Citarasanya pun kayak kerang, tapi bagi gue agak bitter dan sedikit lebih “keras” daripada kerang.

Setelah satu teman lagi datang, kami mulai memesan main course. Gue pesan Australian Wagyu Round Steak (Rp125.000), soalnya pengin banget cobain wagyu steak yang terkenal itu. Benarkah daging sapi yang dimanja dengan rumput pilihan, dipijetin, dan dikasih dengar Mozart seenak itu? Teman-teman gue masing-masing pesan Rib Eye steak, Salmon steak, dan paket Combo (isinya steik, ayam, udang, cumi).

Pas datang, gue sempet agak kuciwa, yah kok ukuran steiknya sekian saja? Weits, tunggu dulu, sodare-sodare… Ukuran yang “sekian saja” itu ternyata nggak habis-habis dipotongin dan akhirnya bikin kenyang banget! So, tentu saja daging datang bersama piring berbatu, kentang goreng, coleslaw, dan bumbunya. (Gue juga pesan jagung susu manis, hehehe…) Dan daging langsung diletakkan di atas batu. Kami dipandu untuk memasak steik sampai tingkat kematangan yang kami inginkan. As a true carnivore, gue minta daging yang masih berdarah… hohoho… Dan si wagyu ini memang empuknya tidak mengecewakan. Restoran mengusulkan kami menyantap satu-dua iris dulu tanpa saus untuk menyerap citarasa dagingnya. Dan memang si wagyu ini sangat empuk dan juicy. Rib Eye-nya juga enak, bahkan terasa agak manis. Mungkin lain kali gue mau coba si Rib Eye ini. Salmonnya juga empuk, tapi gue lebih suka salmon segar jadi sushi sih… hihihi… Sementara combo-nya rupanya terlalu banyak, karena gue end up menghabiskan jatah udang teman gue yang pesan combo ini. Memang sih ibu menyusui makannya banyak… hiks…

Setelah saling bertukar makanan dan menghabiskan jatah makan masing-masing, akhirnya kami tidak tertarik sama sekali untuk pesan dessert. Saat teman terakhir datang (as always, si tukang telat), dan menyantap steiknya, kami semua cuma menonton sambil berkomentar, “Ih, kok batunya lebih panas ya?” “Kok kayaknya dagingnya lebih banyak ya?” Tanpa kepingin buat nambah lagi. Ehem, pengin sih tapi udah gak muat di mana-manaaa…

So, harga rata-rata steiknya adalah 99rb. Appetizer ada yang belasan ribu, ada juga yang sampai 45rb. Minum bisa bottomless untuk ice tea, lemon tea, dan blackcurrant tea. All in all, gue sih mau makan lagi di Stone Grill ini, biarpun keliatannya dia sepi selalu… hehehe…

The End

Laktasi

August 19th, 2008

Waktu gue baru melahirkan bukan cuma seorang teman gue yang berkata, “Jangan putus asa memberi ASI ya!” Tentu ada alasan mengapa hampir semua teman gue yang sudah jadi ibu-ibu menekankan pentingnya ASI. Tentu saja semua alasan teoritis itu silakan baca di majalah-majalah atau cari di situs-situs tentang laktasi. Alasan gue mungkin sederhana saja: Mika ternyata tumbuh nyaris tanpa gangguan sampai 4,5 bulan ini, dan kalau dia menyusu gayanya lucu sekali. Tapi apa pun alasannya, gue ingin membagi pengalaman laktasi gue di sini.

  1. IMD.

Gagal total! Mika paling-paling hanya sekitar 3 menit di dada gue begitu dilahirkan. Begitu melihat puting gue masuk, suster langsung mengangkat dan membawa pergi Mika. Gue juga baru tahu setelahnya bahwa IMD seharusnya dilakukan sampai bayi menemukan puting ibu dan menyusu. Prosesnya bisa setengah sampai satu jam.

  1. Mengeluarkan ASI

Karena tanpa IMD, praktis ASI gue gak keluar di RS. Sudah pinjam pompa listrik, 30 menit cuma dapat 10 ml, jadilah gue bahan ketawaan para suster di sana. Begitu pulang, gue pompa terus payudara gue, dan perlahan-lahan produksi ASI naik, dari 30 ml, 50 ml, sampai akhirnya 120 ml.

  1. Bayi mencret

Ternyata semua bayi baru lahir itu mencret. Sialan, gue gak tau! Gue kira itu karena gue kurang bersih menyimpan ASI yang dipompa. Akibatnya gue buang semua ASI hasil pompa itu. Yah, bayi akan sering mencret sampai kira-kira umur 2 bulan karena sistem pencernaannya masih menyesuaikan diri.

  1. Tidak bisa pup

Saking mencret, Mika gue kasih susu formula yang lebih padat. Mencret berhenti, pup pun berhenti sama sekali sampai 5 hari. Jadi sebenarnya, biarkan saja mencret, soalnya sistem pencernaannya mengeluarkan zat-zat yang jelek. Bayi boleh kok pup sampai 5 kali dalam sehari.

  1. Menyimpan ASI

Gue mulai menyimpan ASI 1 minggu sebelum kerja. Sebetulnya menurut dokter anak gue, yang ideal 2 minggu sebelum mulai kerja. Gue menyimpan ASI dalam botol minum ukuran 60 ml (gue punya 18 botol kecil ini) dan 120 ml (ada sekitar 12 botol sedang ini) (kemudiannya gue juga punya 3 botol ukuran 250 ml), dengan tutup piringan. Karena ada beberapa botol yang “datang” tanpa piringan tutup ini, gue tutup dengan plastic wrap yang biasa buat tutup makanan itu. Karena freezer jadi satu dengan penyimpanan daging dll. gue masukkan botol-botol tsb dalam plastic clip (zip lock), lalu dimasukkan lagi dalam kotak tupperware. Gue berharap perlindungan ini cukup “double-protection” supaya ASI tetap bersih dan tidak terkontaminasi bakteri dari daging. Saat ruang tupperware habis, botol gue masukkan ke dobel plastic clip.

Saat mulai kerja gue punya ASI sekitar 2 liter, dan Mika minum kira-kira 500 ml tiap gue tinggal (sekitar 12 jam).

Gue tidak menganjurkan beli plastik khusus menyimpan ASI karena ternyata bentuknya persis sama dengan plastic clip, harganya mahal, dan hanya bisa digunakan sekali. Mending beli botol yang bisa dipakai berkali-kali. Coba deh cari botolnya di Carrefour, harga berkisar dari Rp10.000 sampai Rp20.000.

  1. Memeras ASI di kantor

Gue memeras ASI 3 x di kantor, jam 8.30, 12.30, dan 15.30. Yang jam 12.30 sering bergeser, tergantung jam gue makan siang. Sekali peras gue dapat 100 ml - 150 ml ASI. Gue menggunakan pompa listrik. Meskipun katanya lebih oke peras dengan tangan, gue merasa memeras dengan tangan itu bikin pegel dan menyakitkan juga, udah gitu dapatnya dikit lagi. Selain itu katanya kan pompa listrik paling mirip dengan isapan bayi. Sekali memeras gue menghabiskan waktu 15-30 menit. Begitu selesai memeras, ASI gue kasih label dengan post-it: hari, tanggal, jam, isi berapa ml, lalu gue simpan di freezer kantor (yg jauh lebih bersih dan kosong daripada yg di rumah… hihihi)

  1. Membawa pulang ASI

Gue membawa cool box dalam ransel, plus blue ice. Jadilah gue selalu kayak kemping kalo ke kantor. Gue berusaha mengemas ASI pada detik terakhir, supaya tetap dingin dan beku, karena meski dibantu blue ice (yg juga disimpan di freezer kantor), tetap saja perjalanan pulang gue cukup lama dan selalu ASI yang beku sudah cair sedikit tiap sampai rumah. Tapi gak papa, langsung saja masukkan lagi ke freezer di rumah.

  1. Pemberian ASI di rumah

Di rumah, Mika minum ASI yang kurang-lebih minggu lalu (pas banget, karena kan gue start menyimpan juga hanya seminggu sebelum ngantor). Tiap malam gue sisihkan ASI yang akan dia minum keesokannya, dan gue tulis di kertas yang ditempel di pintu kulkas, ASI mana yang harus dia minum (ada di kotak tupperware mana, karena kotak tupperware gue berbeda warna tutupnya). O ya, hasil perasan di kantor tidak semua gue bekukan. Hasil perasan terakhir (jam 15.30) gue simpan di pintu kulkas bawah, tetap cair untuk diminum langsung keesokan paginya. Pagi sebelum berangkat ngantor gue juga memeras ASI, jadi Mika dapat 2 botol susu baru, dan sisanya minum susu beku.

Susu beku dicairkan dengan diletakkan di luar (di suhu ruang), lalu dihangatkan dengan penghangat (ada alatnya), suhu penghangat disetel di 40 derajat Celsius. Hati-hati jangan terlalu hangat/panas, selain kasian kalau sampai bayi dikasih yang terlalu panas, tapi gizi dalam ASI juga hilang.

Mika minum ASI dalam botol, meskipun katanya mestinya dikasih dengan sendok supaya anaknya tidak bingung puting, tapi… ah, sudahlah.

  1. Makanan ibu menyusui

Saat Mika masih di bawah 2 bulan, gue salah makan/minum sedikit aja, anak itu mencret. Tapi masuk bulan ketiga, gue mulai bisa menikmati makanan dan minuman yang lebih berani dan eksploratif. Gue sudah bisa makan makanan bersantan, asam, atau pedas, dan Mika tetap oke-oke saja. Sampai sekarang dia tidak pernah mencret lagi.

Untuk memperbanyak air susu, gue makan makan rebusan daun katuk plus airnya, daun pepaya (bisa divariasi ditumis dengan ikan, dibuat gudeg, atau dilalap saja), dan minum jamu (basic-nya beras kencur, lalu diberi air daun pepaya atau sirih) dan kapsul Kattuk dari www.jamuborobudur.com. Supaya air susu kuning dan berminyak, gue makan banyak daging (nyam! I’m a true carnivore… hohoho…), dan hasilnya memang “mengerikan” secara air susu gue yang dicairkan lagi benar-benar bisa ngambang minyaknya.

  1. Perawatan ibu menyusui

Nope. Nada. Zero. Zilch. Sebetulnya sih, kalo mau manja bisa aja gue menggunakan alasan “capek menyusui” blablabla buat rajin ke spa misalnya. Tapi, *sigh* entah kenapa gue gak melakukannya. Anjuran buat mengompres payudara, massage, dll. juga tidak pernah gue ikuti. Sejauh ini semua oke.

  1. Menyusui langsung

Posisi yang paling enak menyusui adalah posisi yang benar, yaitu posisi tummy to mummy, chest to chest, dst itu. Tapi namanya kalo udah ketemu anaknya langsung, lupalah segala teori itu. Apalagi kalo anaknya kluget-kluget ke sana kemari seperti Mika. Jadi posisi menyusui duduk gue ya sudah, gue pangku si Mika, dan kadang-kadang kami bisa melakukan posisi yang benar itu, tapi lebih seringnya sih tidak. Lebih seringnya Mika menyusu dengan wajah menoleh ke arah gue, sementara badan telentang rata di pangkuan.

Menyusui sambil tidur butuh lebih banyak trik, tapi sekarang sukses gue lakukan sehingga gue bisa tidur nyenyak sepanjang malam (alias, tiap Mika minta nyusu, gue tinggal melek sebentar, membantu dia menemukan puting, lalu tidur lagi). Posisi ini butuh banyak bantal: 2 bantal menyangga kepala gue, 1 bantal untuk kepala plus setengah badan Mika, 1 guling kecil menyangga punggung Mika (supaya dia miring), dan 1 guling kecil menyangga punggung gue (supaya gue juga bisa mempertahankan posisi miring gue dan gak pegel). Seringnya sih guling yang di punggung Mika lalu terguling entah ke mana, lalu dia kembali menyusu dengan posisi favorit: kepala menoleh ke arah gue, badan telentang rata.

  1. Tantangan dan hambatan

Karena program ASI eksklusif 6 bulan ini tergolong baru (baru mulai sekitar tahun 2002), otomatis informasinya tidak sampai pada generasi sebelum kita. Jadi tantangan bagi gue dan suami gue adalah meyakinkan generasi tua bahwa bayi bisa selamat hanya dengan ASI, bahkan ASI-lah yang terbaik bagi bayi. Susah juga, soalnya zaman dulu kan bayi biasa sudah dikasih buah saat umur 1 bulan, bahkan di bawah 1 bulan. Tapi ya terbukti juga si Mika tidak apa-apa dan tumbuh besar untuk ukuran usianya hanya dengan ASI (umur 4,5 bulan beratnya 7,1 kg). Babysitter yang tidak terbiasa dengan program ASI eksklusif ini juga jadi tantangan tersendiri, kesalahan seperti kelamaan memanaskan ASI sampai mendidih pun pernah terjadi. Tapi all in all, masalahnya (bagi gue) adalah komunikasi dan bisa diakali dengan penyampaian informasi yang tepat.

Yah, begitulah pengalaman laktasi gue. Moga-moga gue sukses menjalani 1,5 bulan sisa dari program ASI eksklusif ini, dan moga-moga kalo emang cocok, manajemen ASI gue bisa jadi sontekan juga buat orang lain.

The End

No Mama Around

July 29th, 2008

This July is my first month without Mama. She’s not around anymore… at daytime, at least. She has to go back to work. The first week was so miserable. I missed her so much, so I was so cranky.

The very first day she’s back at work, I was so sad. When she’s home again and hold me, I looked at her real hard, Are you going anywhere again, Ma? You left me alone with Yangti and Sus Isah sooooo terribly long! I had to play alone with Yangti and Sus Isah. I looked at her eyes and her face and her breast… hhmmm… that’s something I want! I want milk! Milk! Milk! I grabbed her hand. I opened my eyes. Milk, Ma! Milk! I sucked her fingers. And no milk! Milk, Ma! MIIIIIIIIILLLKK!!! I screamed and wailed. I want you, Ma! I want you, not that bottled breastmilk that I have to drink all day. It tastes the same but it’s not. Mama hold me close and rock me, but I kept screaming, Don’t leave meeeeeeeee!!!

The first week, I kept my parents and grandparents and babysitter so upset, because I was so cranky at night. There’s my usual ceremony of wailing before sleep. But, the minute I hit the dreamland, there I go until morning. Yangti and Yangkung even asked for the special prayer and blessings with holy water on me one day, afraid that "something" caused my temper tantrum.

Anyway, then came my first love, explaining everything about the temper tantrum. Dr. Tiwi. Yes, she’s my first love. I’ve met her before, of course—so this was not a love at my first sight. But the doctor’s becoming more and more beautiful each time we visit her. This time, it’s for my 2nd DPT/Hib and 3rd Polio shots. And I looked at Dr. Tiwi’s pretty face, and I smiled at her, and she smiled at me and flip-flap me to show to my parents how to help me learn to crawl and held my head up, and she hold me a bit—and I was in heaven. This little lady sure knows how to handle me! I like her! No! I love her!!! Then she gave me the shots, and to show her how brave I am, I don’t even give out any cry. You’ll see, Dr. Tiwi, I’ll be a brave boy.

Oh, yeah, about my tantrum, Dr. Tiwi explained to my parents that it’s usual, after the mother got back to work, the baby started to have temper tantrum. They should not play so hard with me after dusk, because I need time to cool down my systems and prepare my body to sleep.

And I was 7 kg, 67 cm at that time. And that was 2 weeks ago.

And after the wise words from the beautiful lady, my temper tantrum got better. I still have to cry before sleeping, but no tantrums.

And, what’s next to report? Oh, oh, oh… I went to see my makco at Pamulang last weekend. She was overjoyed! Mama and Papa also so happy to see that I can bring so much joy to my family. Makco love to see me, and in return I gave her my biggest grin ever.

My yangti and yangkung went to Solo last week. They went for 5 days. So long! When they were there, Papa called Yangkung, and activated his speaker-phone then held his handphone on my face. What’s that, Pa? Why there’s Yangkung’s voice, but no Yangkung? Then Yangti took over Yangkung’s phone, and called me, "Muuung! Mongmingmongbul! Daldoldul! Noooong!" How I missed my yangti! I looked at the phone, again no Yangti but that’s her voice. I decided maybe Yangti’s around and she’d loved to see my smile, so I smile as big as I can for her. See, Yangti, I love you too!

After Mama, Papa’s also got back to work. So I’m really alone with Yangti and Yangkung and Sus Isah now. So many adults, but no parents. Anyway, I’m happy when weekend comes, because that means I have my mama and papa for 2 days! And I heard Mama said to me this morning, tomorrow she’ll have a holiday too, and we’ll go to Opa’s. Yihaa!!!

The End